BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pendidikan jasmani merupakan bagian penting bagi perkembangan manusia untuk mencapai tujuan pendidikan secara menyeluruh karena bukan hanya sebagai sarana penunjang pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan jasmani merupakan bagian penting bagi perkembangan manusia untuk mencapai tujuan pendidikan secara menyeluruh karena bukan hanya sebagai sarana penunjang pendidikan, melainkan sebagai langkah mewujudkan pembangunan bangsa yang maju. Seperti yang dikemukakan oleh Kosasih (1993) dalam Yuyun (2017), mengatakan bahwa olahraga adalah bentuk-bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan jasmani yang insiatif dalam memperoleh rekreasi, kemenangan dan hasil yang optimal. Menurut Husdarta (2011) dalam Budiono, dkk (2014), pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani, permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan.
Aktivitas jasmani dapat dimodifikasikan dalam bentuk permainan atau perlombaan, sehingga dapat menarik minat siswa untuk mengikuti permainan tersebut, salah satunya adalah permainan bola basket. Bola basket merupakan salah satu olahraga permainan yang saat ini mulai digemari oleh banyak orang baik putra ataupun putri, ditambah lagi dengan semakin banyaknya kejuaraan bolabasket seperti DBL (Development Basketball League), IBL (Indonesia Basketball League), NBL (National Basketball League) dan Campus League akan menambah minat masyarakat untuk mempelajari dan mengikuti kejuaraan olahraga bola basket.

Menurut Sutanto (2016) dalam Wardana, dkk (2017), Permainan bola basket adalah olahraga permainan berkelompok yang terdiri dari dua tim yang masing-masing terdiri dari lima pemain. Menurut Rastafan (2006) dalam Yusuf dan Anggraini (2013), ada beberapa teknik dasar yang perlu diperhatikan dalam bermain bola basket seperti cara mengoper atau menangkap, dribbling (menggiring), shooting (menembak), mengamankan bola dari musuh, dan melompat. Menurut Ahmadi (2007) dalam Setiawan dan Sudarso (2016) menjelaskan bahwa dribble merupakan gerakan menggiring bola dengan cara membawa lari bola ke segala arah dan memantulkan bola ke lantai sesuai dengan peraturan yang bertujuan untuk mencari peluang serangan, menerobos pertahanan lawan, ataupun memperlambat tempo permainan.

Kemampuan mengolah bola dalam gerakan menggiring bola membutuhkan koordinasi mata tangan yang baik, agar dalam perlombaan tersebut tim dapat memenangkan pertandingan. Menurut Bompa (2004) dalam Ahwadi, dkk (2016) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat koordinasi yang digunakan seseorang maka akan semakin mudah untuk mempelajari teknik dan taktik yang baru maupun rumit. Amin (2012) mengatakan bahwa kemampuan koordinasi mata tangan adalah kontrol terorganisasi gerakan mata dengan gerakan tangan dan pengolahan masukan visual untuk membimbing mencapai dan memegang bersama dengan penggunaan tangan untuk memandu mata dalam menjalankan tugas, jadi dapat disimpulkan bahwa koordinasi mata tangan memiliki andil yang cukup besar terhadap penguasaan keterampilan bermain bola basket khususnya pada keterampilan menggiring bola basket.

Ukuran tinggi badan dan panjang tungkai merupakan salah satu bagian antrophometri yang dapat mempengaruhi pencapaian olahraga yang diinginkan, seperti yang dikemukakan oleh Fauzan (2015), bahwa selain memiliki lengan yang panjang, pemain bola basket juga harus memiliki tungkai yang panjang karena sebagai anggota gerak bawah, panjang tungkai juga berfungsi sebagai penopang gerak anggota tubuh bagian atas, serta penentu gerakan baik berjalan, berlari, melompat dan meloncat.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti pada saat melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 2 Kembaran yang terletak di Jalan Raya Purwodadi Kembaran, RT 01 RW 01 ditemukan bahwa dalam proses pembelajaran bola basket kelas VIII banyak siswa yang belum menguasai teknik menggiring bola basket, baik dengan tangan kanan atau kiri. Hal ini perlu diperbaiki agar kemampuan siswa dalam belajar bola basket dapat ditingkatkan, karena menggiring bola basket merupakan salah satu teknik dasar bermain bola basket yang memiliki kontribusi besar dalam permainan bola basket.

Berkaitan dengan permasalahan diatas peneliti akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan permainan bola basket dengan judul “Hubungan Antara Koordinasi Mata Tangan dan Panjang Tungkai Dengan Kemampuan Menggiring Bola Basket Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran Tahun Ajaran 2017/2018”.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
Apakah ada hubungan antara kemampuan koordinasi mata tangan dengan kemampuan menggiring bola basket siswa kelas VIIISMP Negeri 2 Kembaran?
Apakah ada hubungan antara panjang tungkai dengan kemampuan menggiring bola basket siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran?
Apakah ada hubungan antara koordinasi mata tangan dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kemampuan menggirirng bola basket siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran?
Tujuan Penelitian
Untuk mendeskripsikan kemampuan koordinasi mata tangan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran.

Untuk mendeskripsikan panjang tungkai siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran.

Untuk menganalisa hubungan antara koordinasi mata tangan dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kemampuan menggirirng bola basket siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran.
Manfaat Penelitian
Secara Teoritis
Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan dan teori pembelajaran khususnya dalam pengukuran ketrampilan dasar bola basket.

Secara Praktis
Bagi Guru
Sebagai indikator untuk mengetahui hubungan antara kemampuan koordinasi mata tangan dan panjang tungkai dengan kemampuan menggiring bolabasket pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran tahun ajaran 2017/2018.

Bagi Siswa
Sebagai sumber belajar terkait dengan hubungan antara kemampuan koordinasi mata tangan dan panjang tungkai dengan kemampuan menggiring bolabasket pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran tahun ajaran 2017/2018.

Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini memberikan pengetahuan kepada peneliti tentang hubungan antara koordinasi mata tangan dan panjang tungkai dengan kemampuan menggriring bola basket siswa SMP Negeri 2 Kembaran.

Bagi sekolah/ lembaga
Penelitian ini memberikan wawasan dan informasi khususnya di kalangan mahasiswa, berupa data hubungan antara koordinasi mata tangan dan panjang tungkai dengan kemampuan menggriring bola basket siswa SMP Negeri 2 Kembaran.

Keaslian Penelitian
No Penenlitian Terdahulu Perbandingan
1. Judul Penelitian
Perbedaan pengaruh latihan dengan metode massed practice dan distributed practice terhadap kemampuan dribble bola basket siswa putra ekstrakurikuler bola basket SMA NEGERI 1 WIDODAREN NGAWI tahun 2010/2011.

Penulis
Bayu Santosa
Tahun Penelitian
2011 Persamaan
Variabel terikat pada penelitian ini adalah menggiring bola basket.

Perbedaan
1. Tingkat kelas yang digunakan penelitian terdahulu siswa putra ekstrakurikuler, sedangkan penelitian sekarang hanya siswa kelas VIII.

Populasi dan sampel penelitian menggunakan siswa SMA.

2. Judul Penelitian
Hubungan antara koordinasi mata tangan kelincahan dan keterampilan bermain tenis meja pada siswa putra kelas X SMA NEGERI 1 BOBOTSARI KECAMATAN BOBOTSARI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Penulis
Wiku Yohatma
Tahun Penelitian
2013 Persamaan
Variabel bebas yang digunakan adalah koordinasi mata tangan.

Menggunakan tes pengukuran dan analisis data menggunakan korelasi.

Perbedaan
Populasi dan sampel penelitian terdahulu adalah siswa SMA, sedangkan penelitian ini adalah siswa SMP.

Tingkat kelas yang digunakan penelitian terdahulu kelas X, sedangkan penelitian sekarang kelas VIII.

3. Judul Penelitian
Hubungan antara tinggi badan dan kelincahan tubuh tehadap hasil dribble bola pada permainan bola basket.

Penulis
Heri Rustanto
Tahun Penelitian
2015 Persamaan
Variabel terikat yang digunakan adalah dribble bola basket.

Menggunakan tes pengukuran dan analisis data menggunakan korelasi..

b. Perbedaan
Variabel bebas pada penelitian terdahulu adalah tinggi badan, sedangkan penelitian ini adalah panjang tungkai.

4. Judul Penelitian
Hubungan panjang tungkai, panjang lengan, dan daya ledak otot tungkai terhadap keterampilan under basket shoot di Unit Kegiatan Mahasiswa Bolabasket UNY Putra
Penulis
Ade Putra Fauzan
Tahun Penelitian
2015 Persamaan
Variabel bebas yang salah satunya digunakan adalah panjang tungkai.

Menggunakan tes pengukuran dan analisis data menggunakan korelasi.

b. Perbedaan
Populasi dan sampel penelitian terdahulu menggunakan UKM bola basket UNY PUTRA, sedangkan penelitian sekarang adalah siswa SMP.

Sumber: Proposal Skripsi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kajian Teori
Permainan Bola Basket
Permainan bola basket merupakan salah satu olahraga beregu yang dimainkan oleh 2 tim dengan masing-masing terdiri dari 5 pemain inti. Bola basket dapat dimainkan oleh putra atau putri. Tujuan permainan bola basket adalah memasukan bola ke dalam keranjang sebanyak mungkin, serta menahan serangan lawan agar tidak memasukan bola kedalam keranjang dengan cara lempar tangkap, menggiring, dan menembak. Luas lapangan yang digunakan dalam permainan bola basket adalah 28 m x 15 m dengan lantai dasar terbuat dari tanah, lantai, atau papan yang dikeraskan dan dimainkan dalam waktu 4 x 10 menit (Sumiyarsono, 2002 dalam Wiriadinata, 2013).

Olahraga bola basket awalnya tercipta dari rasa bosan yang melanda anggota penggemar olahraga yang tergabung dalam komunitas pemuda Kristiani di sekolah pendidikan jasmani YMCA (Young Men’s Christian Association) di Springfield, Massuchussets, Amerika Serikat. Dr. Luther Gullick adalah seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut, beliau menyadari bahwa ada gejala merosotnya minat siswa yang mengikuti kegiatan senam, selain karena rasa bosan juga karena kebutuhan yang mendesak akan kegiatan di musim dingin. Sehingga Dr. Luther Gullick mempunyai inisiatif untuk menciptakan sebuah permainan beregu yang dapat dilakukan diruang tertutup untuk mengisi waktu siswanya pada masa liburan musim dingin di New England dengan dibantu oleh seorang rekannya di Springfield bernama Dr. James A. Naismith. Awal mulanya Naismith menyatakan bahwa permainan yang diciptakan harus menarik, mudah dipelajari (sederhana), tidak ada unsur menendang, menjegal, dan tidak menggunakan gawang sebagai sasaran tembakan. Terinsiprasi dari permainan yang pernah ia lakukan pada waktu kecil di Ontario, Naismith memberikan nama pada permainan tersebut dengan sebutan bola basket pada 15 Desember 1891.

Negara yang menjadi salah satu sasaran pengembangan olahraga basket oleh YMCA adalah Cina. Pada tahun 1920-an, perantau dari Cina mulai memasuki wilayah Indonesia. Perantauan tersebut membawa permainan bola basket yang sudah dua dasawarsa dikembangkan di Cina untuk disebarluaskan di wilayah yang mereka kunjungi. Para perantau membentuk komunitas sendiri termasuk mendirikan sekolah Tionghoa sehingga permainan bola basket cepat berkembang di sekolah-sekolah Tionghoa, dalam pembelajaran jasmani bola basket menjadi salah satu olahraga wajib yang harus dimainkan oleh setiap siswa. Oleh karena itu, di setiap sekolah selalu mempunyai sarana prasarana bola basket dan pemain bola basket yang menonjol penampilannya berasal dari kalangan tersebut
Tahun 1930-an perkumpulan bola basket mulai terbentuk di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Medan menjadi sentral berdirinya perkumpulan basket ini. Olahraga basket mulai dikenal luas di kota-kota yang menjadi basis perjuangan seperti Yogyakarta dan Solo saat Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Pada PON (Pekan Olahraga Nasional) I (1948) di Solo, bola basket dimainkan untuk pertama kali di level nasional. Peserta PON I masih terbatas pada putra terkuat dari masing-masing ‘Karesidenan’, dan beberapa perkumpulan dengan pemain pribumi seperti PORI Solo, PORI Yogyakarta, dan Akademi Olahraga Sarangan. Namun harus diakui bahwa untuk teknik permainan, kemampuan regu-regu Karesidenan yang terdiri dari para pemain Tionghoa jauh lebih tinggi daripada pemain pribumi.

Pada tahun 1951 saat pergelaran PON II, basket sudah dimainkan untuk putra dan putri. Regu yang dikirim tidak lagi mewakili Karesidenan melainkan sudah mewakili Provinsi. Regu-regu dari Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatra Utara adalah kekuatan-kekuatan terkemuka di pentas PON. Maladi merupakan salah satu tokoh olahraga nasional pada tahun 1951, meminta Tonny Wen dan Wim Latumeten untuk membentuk organisasi basket di Indonesia. Jabatan Maladi waktu itu adalah sekretaris Komite Olimpiade Indonesia (KOI).Atas prakarsa kedua tokoh itu maka pada 23 Oktober 1951 dibentuklah organisasi dengan nama “Persatuan Basketball Seluruh Indonesia”. Pada tahun 1955, diadakan penyempurnaan nama sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Nama itu adalah “Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia” disingkat dengan Perbasi. Pengurus Perbasi yang pertama adalah Tonny Wen sebagai ketua dan Wim Latumeten sebagai sekretaris.Perbasi diterima menjadi anggota FIBA pada tahun 1953. Setahun kemudian, 1954, Indonesia untuk pertama kalinya mengirimkan tim bola basket di Asian Games Manila. (http://perbasi.or.id/sejarah-bola-basket-indonesia/).

Teknik Dasar Bola Basket
Suatu tim pada permainan bola basket yang ingin memasukan bola kedalam keranjang lawan dengan jumlah yang banyak dengan menggunakan cara yang efektif dan efisien maka salah satunya diperlukan penguasaan teknik dasar yang baik. Seperti yang dikemukakan oleh Ahmadi (2007) dalam Prasetyo (2013), untuk menjadi tim bola basket yang handal, ada salah satu faktor utama yang harus dipenuhi oleh seorang pemain bola basket diantaranya adalah penguasaan teknik dasar (fundamentals) yang baik. Menurut Wissel (2009) dalam Prasetyo (2013), teknik dasar bola basket terdiri dari gerakan kaki (footwork), menembak bola ke dalam keranjang (shooting), melempar (passing), menangkap, menggiring (dribble), bergerak dengan bola, bergerak tanpa bola, dan bertahan.

Teknik Menggiring Bola Basket (Dribble)
Salah satu teknik membuat pertahan lawan menjadi renggang dan berantakan, selain dengan menggunakan operan (pasiing) juga dapat dilakukan dengan menggiring bola (dribble). Menurut Jon Oliver (2007) dalam Prasetyo (2013), Menggiring bola adalah salah satu teknik dasar yang diajarkan kepada pemula, karena ketrampilan ini sangat penting bagi setiap pemain yang terlibat dalam pertandingan bola basket. Berkaitan dengan menggiring bola, Muhajir (2007) dalam Satrio (2012), menyatakan bahwa menggiring bola merupakan cara yang diperbolehkan dalam peraturan untuk membawa lari bola ke segala arah. Seorang pemain boleh membawa bola lebih dari satu langkah, asal bola sambil dipantulkan baik dengan berjalan ataupun berlari. Menggiring bola merupakan suatu usaha untuk membawa bola menuju ke depan atau ke pertahanan lawan.

Sarumpaet dkk (1992) dalam Santosa (2011), mengatakan bahwa dalam menggiring bola basket hanya diperbolehkan menggunakan satu tangan kanan saja atau kiri saja dan dilakukan secara bergantian antara tangan kanan dan tangan kiri. Kosasih (2008) dalam Santoso (2012), mengatakan bahwa menggiring bola dipengaruhi oleh kontrol pada tangan seperti: kekuatan siku, pergelangan tangan, telapak tangan, jari-jari, sedikit bantuan bahu, dan mata tidak melihat ke arah bola. Kunci untuk meningkatkan permainan bola basket yaitu saat melakukan gerakan menggiring bola menggunakan tangan yang lemah, gunakanlah tubuh sebagai pelindung untuk melindungi bola dari serangan lawan (Hall Wissel, 1996) dalam Winarno (2013). Menurut Kosasih (2008) dalam Santoso (2012), banyak teknik menggiring bola yang harus dikuasai oleh setiap pemain bola basket untuk memberikan permainan yang baik dan menarik serta dapat menguntungkan tim antara lain:
Low Dribble adalah dribble yang menggunakan awal posisi kaki satu telapak didepan berguna untuk mempercepat perpindahan gerak atau arah. Dribble dilakukan dengan irama konstan dengan satu tangan melindungi bola.

Power Dribble adalah gabungan gerakan dari low dribble, spin dribble dan crossover dribble.

Speed Dribble adalah tipe dribble yang menggunakan kecepatan berlari yang tinggi.

Change of Pace Dribble adalah pemain dapat melakukan pergantian kecepatan dalam melakukan dribble.

Crossover Dribble adalah pemain melakukan dribble kesalah satu arah dari lawan jaga lalu merubah kearah sebaliknya dengan cepat.

Hand and Shoulders Move adalah dribble menggunakan perpindahan tangan dengan cepat tetapi terlebih dahulu dilakukan gerakan tipuan oleh kepala.

Spin Dribble adalah gerakan memoros saat mendekati lawan dan memutar arah badan menuju kedepan.

Behind Dribble adalah mengganti arah dribble dengan mengarahkan bola kebelakang badan sehingga bola melewati belakang tubuh saat melakukan pergantian gerakan dribble.

Between the Legs Dribble adalah dribble yang dilakukan melewati bawah kaki saat melakukan perpindahan dribble.

Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa hal terpenting dalam bermain bola basket adalah penguasaan teknik dasar (fundamental) kerena sangat berpengaruh bagi suatu tim pada permainan bola basket yang ingin memasukan bola kedalam keranjang lawan dengan jumlah yang banyak dengan menggunakan cara efektif dan efisien.
Koordinasi Mata Tangan
Dalam permainan bola basket seorang pemain selain harus menguasai teknik dasar yang benar juga dibutuhkan kondisi fisik yang baik, seperti halnya koordinasi mata tangan. Hampir semua cabang olahraga memerlukan koordinasi”. Sukadiyanto (2002) dalam Saputra (2016), menyatakan bahwa “Menggunakan kemampuan koordinasi, serangkaian gerakan dapat dilakukan dengan selaras, serasi, dan simultan, sehingga gerak yang dilakukan nampak luwes”. Koordinasi yang baik akan mampu mengkombinasikan beberapa gerakan yang kompleks secara baik dan halus tanpa mengeluarkan energi yang lebih. Irianto (2002) dalam Saputra (2016), mengatakan bahwa koordinasi adalah kemampuan melakukan gerak pada berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan tepat secara efisien. Menggiring bola memiliki banyak kombinasi gerakan, dari gerakan tungkai, gerakan badan saat melewati lawan, gerakan lengan, dan kepala saat memperhatikan situasi di lapangan permainan. Koordinasi mata tangan adalah kemampuan seseorang untuk menggabungkan daya lihat dan gerakan tangan kedalam suatu pola gerak yang efisien, kemampuan untuk melempar, memukul, menangkap dan menuntut hubungan kerja yang erat antara mata dan System Neomoscular. (Yunus, 1992) dalam Supriyanto dan Pardijono (2013). Menurut Bompa dalam Tatag Effendi (2010) dalam Yohatma (2013), mengemukakan bahwa dalam koordinasi mata tangan akan menghasilkan timming dan akurasi. Melalui timming yang baik, perkenaan antara tangan dengan bola akan sesuai dengan keinginan sehingga akan menghasilkan gerakan yang efektif. Akurasi akan menentukan tepat tidaknya obyek kepada sasaran yang dituju.

Panjang Tungkai
Panjang tungkai adalah ukuran panjang tungkai seseorang mulai dari alas kaki sampai dengan trochanter mayor, kira-kira pada bagian tulang yang terlebar di sebelah luar paha dan apabila paha digerakkan trochanter mayor dapat diraba dibagian atas dari tulang paha yang bergerak (Tim Anatomi, 2003) dalam Johan (2012). Panjang tungkai merupakan bagian dari postur tubuh yaitu sebagai salah satu anggota gerak bawah yang memiliki peran dalam kemampuan menggiring bola basket. Sebagai anggota gerak bawah, panjang tungkai berfungsi sebagai penopang gerak anggota tubuh bagian atas, serta penentu gerakan baik berjalan, berlari, dan melompat. Dalam gerak permainan bola basket, ukuran tungkai yang panjang memberikan keuntungan dalam jangkauan langkahnya, karena pada dasarnya seseorang yang mempunyai tungkai yang panjang akan dapat mencapai langkah yang panjang dibandingkan dengan orang yang mempunyai tungkai yang pendek (Fauzan, 2015). Soedarminto (1997) dalam Mahar (2010), mengatakan bahwa makin cepat seseorang berlari, maka makin panjang langkahnya. Bompa (1994) dalam Johan (2012), mengatakan bahwa indikator yang perlu diperhatikan dalam setiap cabang olahraga adalah tinggi badan, berat badan, dan power atlet.

Karakteristik Siswa SMP
Menurut Sukintaka (1992) dalam Asnando (2016), anak tingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) atau SMP (Sekolah Menengah Pertama) berumur antara 13 sampai 15 tahun, pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada pertumbuhan fisiknya.

Berikut karakteristik secara jasmani pada anak usia SMP, yaitu :
Putra atau putri mengalami perkembangan fisik pada otot-otot tubuh.

Membutuhkan pengaturan istirahat yang baik.

Sering menampilkan kecanggungan dan koordinasi yang kurang baik.

Merasa mempunyai ketahanan dan sumber energi tak terbatas.

Mudah lelah tetapi tidak dihiraukan.

Anak laki-laki mempunyai kecepatan dan kekuatan otot yang lebih baik daripada putri.

Kesiapan dan kematangan untuk keterampilan bermain menjadi lebih baik.

Kerangka Teori
Menggiring bola merupakan teknik dasar yang paling sering digunakan oleh tim untuk membawa bola kedepan memasuki daerah pertahanan lawan, seorang pemain bola basket untuk dapat menerobos pertahanan lawan dibutuhkan gerak yang efektif dan efisien. Seorang pemain bola basket saat melakukan gerakan menggiring bola sebaiknya tanpa melihat ke arah bola, karena dalam menggiring bola membutuhkan koordinasi antara mata dan tangan, koordinasi tersebut digunakan saat lawan mulai mendekat, mata mengirimkan sinyal ke otak untuk memerintah tangan melakukan gerakkan menggiring bola yang sesuai agar bola tidak dapat diambil oleh lawan. Pemain bola basket yang mempunyai tungkai panjang memiliki kelebihan dari seseorang yang mempunyai tungkai yang pendek, karena seseorang yang memiliki tungkai panjang akan mudah untuk melakukan beberapa jenis menggiring bola untuk menerobos pertahanan lawan. Berdasarkan penjelasan di atas bahwa kemampuan menggiring dapat dipengaruhi oleh koordinasi mata tangan dan panjang tungkai yang dimiliki seseorang, melakukan teknik dasar menggiring bola dengan baik harus didukung dengan kemampuan koordinasi yang baik supaya menghasilkan gerakan yang harmonis dan berkesinambungan. Dengan demikian diduga ada hubungan antara kemampuan koordinasi mata tangan dan panjang tungkai dengan kemampuan menggiring bola pada permainan bola basket.
Kerangka Konsep
X1

Y

X2

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian (Sugiyono, 2017)
Keterangan : X1 : Koordinasi Mata Tangan
X2 : Panjang Tungkai
Y : Menggiring Bola
Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dijelaskan diatas, maka hipotesis yang akan diuji pada penelitian ini adalah:
Terdapat hubungan antara kemampuan koordinasi mata tangan dengan kemampuan menggiring bola pada permainan bola basket siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran..

Terdapat hubungan antara panjang tungkai dengan kemampuan menggiring bola pada permainan bola basket siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran.

Terdapat hubungan antara kemampuan koordinasi mata tangan dan panjang tungkai secara bersama-sama dengan kemampuan menggiring bola pada permainan bola basket siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran.

BAB III
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara koordinasi mata tangan dan panjang tungkai dengan kemampuan menggiring bola basket. Menurut pendapat Suharsimi Arikunto (2002) dalam Yohatma (2013), penelitian korelasional adalah penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada berapa eratnya hubungan serta berarti tidaknya hubungan itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan studi korelasi.

Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Lapangan bola basket SMP Negeri 2 Kembaran yang terletak di Jalan Raya Purwodadi Kembaran, RT 01 RW 01.

Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada awal bulan Mei, penjelasan kegiatan penelitian dapat dilihat pada jadwal penelitian
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017). Populasi target pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran yang memiliki umur 13-15 tahun.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2017). Santoso (2009) dalam Kurniawati dan Putri (2016), Sampel merupakan bagian dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu sehingga dianggap mewakili populasi. Menurut Arikunto (2006) dalam Sulistiyono (2013), mengatakan bahwa apabila jumlah subyek besar, dapat diambil antara 10 – 15% atau 15-25% atau lebih. Jumlah populasi 200 orang dengan sampel yang diambil sebanyak 50 orang dari total populasi sebanyak 6 kelas, setiap kelas mewakili 8 orang yang terdiri dari 5 putra dan 3 putri. Pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive Random Sampling dengan kriteria sebagai berikut:
Kriteria Inklusi
Siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kembaran
Usia 13-15 tahun
Sehat jasmani
Siswa yang bersedia ikut dalam penelitian ini
Kriteria Eksklusi
a. Siswa dalam keadaan tidak sehat
Variabel Penelitian
Menurut Maksum (2012) dalam Setiawan dan Sudarso (2016), mengatakan bahwa variabel adalah suatu konsep yang memiliki variabilitas atau keragaman yang menjadi fokus penelitian. Variabel dapat digolongkan menjadi dua, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah yang mempengaruhi, sementara variabel terikat adalah yang dipengaruhi. Variabel bebas pada penelitian ini adalah koordinasi mata tangan (X1) dan panjang tungkai (X2), sedangkan variabel terikatnya adalah menggiring bola basket (Y).

Definisi Operasional
No Variabel Defini Operasional Cara Ukur Skala Ukur
1 Koordinasi Mata Tangan Kemampuan mengkombinasikan gerak secara selaras dan berkesinambungan antara mata dan tangan. Cara ukur
Menggunakan lempar tangkap bola selama 30 detik.
Kategori (Putra dan Putri)
Sangat baik (>35) (>30)
Baik (30-35) (25-30)
Sedang (25-29) (20-24)
Kurang (20-24) (15-19)
Sangat kurang (<20) (<15)
(Pusat Kesegaran Jasmani, Depdikbud, 1996 dalam Instrumen SBMPTN, 2015) Rasio
2 Panjang Tungkai Anggota gerak bagian bawah sebagai penopang gerak tubuh bagian atas. Cara ukur
Menggunakan tali ukur satuan centimeter.

Tim Anatomi FIK
(2003) dalam Widikdo (2012).

Rasio
3 Menggiring Bola Basket Kemampuan membawa bola sesuai dengan rintangan yang berbentuk zig-zag. Cara ukur
Kecepatan menggiring bola basket dihitung sepersepuluh detik.
Norma Penilaian Tes Dribble
Interval Score Kategori
M + 1,5SD < X Sangat Baik
M + 0,5SD < X ? M + 1,5SD Baik
M – 0,5SD < X ? M + 0,5SD Cukup Baik
M – 1,5SD < X ? M – 0,5SD Kurang Baik
X ? M – 1,5SD Sangat Kurang
(Anas Sudijono, 2011 dalam Khadir, 2016) Rasio
Sumber: Proposal Skripsi
Alur Penelitian
Alur penelitian meliputi dari 4 tahap sebagai berikut:
Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan yaitu melakukan penyusunan proposal, study pustaka, dan usulan penelitian. Kegiatan pada tahap persiapan lebih memfokuskan pada pengumpulan teori serta landasan materi sebagai dasar untuk melakukan suatu penelitian yang kemudian terlebih dahulu akan dilakukan seminar usulan proposal penelitian.

Tahap Pelaksanaan
Setelah seminar proposal penelitian dilaksanakan dan disetujui oleh Dosen Pembimbing dan Dosen Penelaah, langkah selanjutnya adalah:
Mengurus perizinan ke lokasi penelitian dan BAPPEDA Kabupaten Banyumas.

Pengumpulan data penelitian.

Tabulasi hasil penelitian.
Tahap Analisis Data
Tahap analisis data meliputi analisis secara statistik parametrik menggunakan Pearson Product Moment.

Tahap Penyusunan Laporan
Data hasil penelitian kemudian dianalisis, dibahas, disimpulkan, dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk laporan akhir (skripsi).

Instrumen Penelitian
Menurut Arikunto (2000) dalam Wibisono (2012), instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan menjadi lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga hasilnya lebih mudah diolah. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data masing-masing variabel adalah sebagai berikut:
Koordinasi Mata Tangan
Untuk mengukur koordinasi mata tangan peneliti memilih tes koordinasi mata tangan dengan lempar tangkap bola tenis pada dinding yang telah diberi target selama 30 detik oleh Ismaryati dalam Efendi (2011) dalam Rozy (2015). Tes lempar tangkap bola tenis ini memiliki validitas 0,922 dan reliabilitas 0,835.
Langkah-langkah pelaksanaan tes koordinasi mata tangan:
Bentuk tes: Tes lempar tangkap bola tenis.

Tujuan: Untuk mengukur koordinasi mata tangan.

Alat dan fasilitas:
Bola tenis
Kapur atau pita untuk membuat batas
Meteran
Stopwatch
Blangko penilaian
Bolpoint atau pensil
Sasaran darilingkaran terbuat dari kertas dengan garis tengah 30cm.

Petunjuk pelaksanaan:
Sampel berdiri dibelakang garis bataslemparan sejauh 2 meter.
Sampel diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan.

Sampel melemparkan bola kedinding menggunakan salah satu tangan kemudian sampel menangkap kembali bolatenis menggunakan salah satu tangan yang berbeda selama 30 detik.

Penilaian:
Skor yang dihitung adalah lemparan yang sah, yaitu lemparan yang mengenai sasaran dan dapat ditangkap kembali.

Pelaksanaan lempar dan tangkap bola sampel tidak menginjak garis batas.

Sebuah lemparan akan memperoleh skor 1 apabila lemparan tersebut mengenai sasaran dan dapat ditangkap kembali dengan benar.
Jumlah skor adalah keseluruhan hasil lempar tangkap bola dengan tangan yang sama dan tangan berbeda
Papan Pantul
(Dinding)

2,5m

2m

Subyek Area
Gambar 3.1. Dinding target tes koordinasi mata tangan
Tabel 3.1. Norma penilaian lempar tangkap bola
(Pusat Kesegaran Jasmani, Depdikbud, 1996 dalam Instrument SBMPTN, 2015)
Kategori Putra Putri
Sangat Baik 35 30
Baik 30 – 35 25 – 30
Sedang 25 – 29 20 – 24
Kurang 20 – 24 15 – 19
Sangat Kurang < 20 < 15
Panjang Tungkai
Pengukuran panjang tungkai merupakan ukuran atau proporsi tungkai dari pangkal paha sampai telapak kaki. Pengukuran ini menggunakan pita ukur satuan centimeter dan mempunyai reliabilitas 0,98 dan validitas 0,84 Tim Anatomi FIK (2003) dalam Widikdo (2012).

Bentuk tes: Pengukuran panjang tungkai.

Tujuan : Untuk mengukur panjang tungkai.

Alat dan fasilitas:
Meteran
Blangko penilaian
Bollpoint atau pensil
Petunjuk pelaksanaan:
Sampel berdiri tegak di atas lantai yang rata
Peneliti mencari bagian tulang yang terluar di sebelah lateral pada paha, dan apabila paha di ayunkan anterior maupun posterior akan nampak bergerak.

Penilaian:
Peneliti meletakkan meteran pada titik trochanter mayor, lalu tarik meteran sampai bagian kaki terbawah.

Kemampuan Menggiring Bola Basket
Tes kemampuan menggiring bola basket merupakan salah satu bagian dari proses penilaian hasil pembelajaran yang dilakukan secara berurutan dan bergantian di sekolah. Tes menggiring bola basket ini memiliki nilai validitas sebesar 0,804 dan reliabilitas sebesar 0,893 (Ngatman dan Andriyani, 2017). Untuk mengukur kemampuan menggiring bolabasket dengan cara sebagai berikut:
Bentuk tes: Tes menggiring bolabasket zig-zag
Tujuan: Untuk mengukur kemampuan menggiring
bola basket
Alat dan fasilitas:
Bolabasket
Stopwatch
Kun
Meteran
Blangko penilaian
Bollpoint atau pensil
Petunjuk pelaksanaan:
Pada aba-aba “siap”, sample berdiri dibelakang garis start, letakkan bola ditengah-tengah garis start.

Setelah aba-aba “ya”, sample segera mengambil bola dan menggiringnya sesuai dengan arah atau lintasan yang ditentukan dalam gambar, sampai kembali melewati garis finish.

Menggiring bola boleh dengan berganti tangan, asalkan sesuai dengan peraturan permainan bola basket.

Setiap kursi harus dilampaui dengan menggiring bola. Pada saat melampaui garis finish, bola harus tetap digiring. Garis start juga merupakan garis finish.

Apabila saat menggiring bolanya mental jauh, ulangi tes tersebut dengan segera.

Apabila saat menggiring bola tidak terkuasai, maka boleh dipegang dan segera digiring lagi.

Penilaian:
Skor ditentukan dari lama waktu tempuh sample dari garis start sampai garis finish.

2m
2m
2m
2m
4m

Finish
Gambar 3.2. Lapangan Menggiring Bola Basket
(Ngatman dan Andriyani, 2017)
Tabel 3.2. Norma Penilaian Tes Menggiring Bola Basket (Anas Sudijono, 2011 dalam Khadir, 2016)
Interval Score Kategori
M + 1,5SD < X Sangat Baik
M + 0,5SD < X ? M + 1,5SD Baik
M – 0,5SD < X ? M + 0,5SD Cukup Baik
M – 1,5SD < X ? M – 0,5SD Kurang Baik
X ? M – 1,5SD Sangat Kurang
Keterangan :
M = Rata-rata hitung
SD= Standar Deviasi
X = Mean
Validitas dan Reliabilitas
Validitas adalah suatu alat ukur yang dikatakan sahih (valid) bila ia benar-benar sesuai dengan apa yang akan di ukur atau sesuai dengan tujuan-tujuan mata ajaran yang telah ditetapkan., sedangkan reliabilitas adalah alat yang dapat menghasilkan suatu gambaran yang benar-benar dapat dipercaya (Albertus dan Muhyi.F, 2014).Pengukuran instrumen koordinasi mata tangan menggunakan tes lempar tangkap bola tenis dengan koefisien validitas 0,922 dan reliabilitas 0,835 (Ismaryati dalam Efendi, 2011 dalam Rozy, 2015). Pengukuran instrumen panjang tungkai menggunakan pengukuran proporsi tungkai dari pangkal paha sampai telapak kaki. Pengukuran ini menggunakan antrophometer dan mempunyai reliabilitas 0,98 dan validitas 0,84 Tim Anatomi FIK ( 2004) dalam Widikdo (2012). Sedangkan untuk mengukur kemampuan menggiring bolabasket menggunakan dribble zig-zagSTO (Sekolah Tinggi Olahraga) dengan koefisien validitas 0,804 dan reliabilitas 0,893. Kesimpulannya seluruh instrumen yang digunakan didalam penelitian dapat dikatakan valid dan reliabel karena mempunyai alat ukur dan menghasilkan suatu gambaran.

Sumber Data
Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diambil langsung melalui tes dan pengukuran instrumen, sedangkan data sekunder adalah data yang diambil dari dokumentasi seperti daftar siswa yang mengikuti penelitian.

Analisis Data
Sebelum melakukan analisis data, peneliti harus meneliti keabsahan data yang akan diolah. Penelitian ini menggunakan uji normalitas untuk mengetahui kenormalan data sedangkan uji linearitas adalah untuk mengetahui garis hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang ada dalam penelitian terdistribusi secara normal atau tidak. Untuk pengujian data penelitian menggunakanShapiro Wilk. Data terdistribusi normal apabila signifikasi atau probabilitas lebih besar dari 0,05 (Sig.>0,05).

Uji Linearitas
Uji linearitas dilakukan untuk membuktikan apakah variabel bebas mempunyai hubungan yang linear dengan varibel terikat. Linearitas menunjukan variasi hubungan antara kedua variabel yang diuji dengan menggunakan Ramsey Reset Test. Dengan ketentuan mengenai linearitas variabel bebas dan vaiabel terikat pada program SPSS diduga ada hubungan linear antara kedua variabel yang akan diuji apabila nilai signifikasi lebih kecil dari 0,05 (Sig.>0,05).
Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk mencari tahu apakah dari beberapa kelompok data penelitian memiliki varians yang sama atau tidak. Perhitungan uji homogenitas menggunakan Heterosdastisitas dengan taraf signifikan 5%, maka ketentuan mengenai homogenitas data di indikasikan sebagai berikut:
Nilai Sig. atau probabilitas lebih besar dari 0,05 (Sig.0,05) yang artinya data penelitian homogen
Nilai Sig. atau probabilitas lebih kecil dari 0,05 (Sig.0,05) yang artinya data penelitian tidak homogen
Uji Hipotesis
Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi person product moment dengan bantuan aplikasi SPSS. Menurut Sugiyono (2017), rumus korelasi product moment dari person sebagai berikut:
rxy= N?XY – (?X) (?Y)_________
?{N?X2 – (?X)2}{N Y2- (?Y)2}
Keterangan:rxy : koefisien antara x dan y
N : ukuran sampel (responden)
X : skor X
Y : skor Y
X2 : kuadrat X
Y2 : kuadrat Y
XY: perkalian skor X dan Y
Selanjutnya untuk menguji apakah r tersebut signifikat atau tidak dengan menggunakan rumus thitung dengan rumus yang digunakan adalah :

thit = r?(n-2)
?1- r2
Keterangan: r : koefisien korelasi
n : jumlah responden
jika thitung>dari ttabel, maka hasil signifikan
jika thitung<dari ttabel, maka hasil tidak signifikan
Korelasi regresi linear berganda menunjukan signifikasi hubungan antara dua variabel bebas secara bersama-sama dengan variabel terikat. Rumus korelasi ganda menurut Sugiyono (2017) sebagai berikut:
ryx1x2 = ?r2yx1 + r2yx2 – 2r yx1r yx2rx1x2
1 – r2x1x2
Keterangan :
ryx1x2: korelasi antara variabel X1 dengan X2 secara bersama-
sama dengan variabel Y.

ryx1: korelasi product moment antara X1 dengan Y
ryx2: korelasi product moment antara X2 dengan Y
rx1x2: korelasi product moment antara X1 dengan X2

Selanjutnya untuk menguji apakah r tersebut signifikan atau tidak dengan menggunakan rumus Fhitung (Sugiyono, 2017) dengan rumus yang digunakan adalah:
Fh= r2 / k
(1 – r2)/(n – k – 1)
Keterangan :
r: koefisien korelasi ganda
k: jumlah variabel independen
n: jumlah anggota sampel
Jadwal Penelitian
No Tahap Penelitian
Bulan
Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap Persiapan Penyusunan Proposal Studi Pustaka Usulan Seminar Proposal 2. Tahap Pelaksanaan Perizinan ke Lokasi Penelitian dan ke BAPEDA Kabupaten Banyumas Pengumpulan Data Penelitian Tabulasi Hasil Penelitian 3. Analisis Data 4. Tahap Penyusunan Skripsi Sumber: Proposal Skripsi